Apa yang terlihat bukan berarti kebenaran

By | September 3, 2017

pengembangan diri

Selamat pagi pemuda nusantara, tetap semangat melakukan self development atau pengembangan diri terus menerus ya.. supaya kita bisa bersaing dengan negara-negara tetangga dan syukur syukur bisa menjadi pemenang nantinya.

Saat tulisan ini dibuat kasus #firsttravel sedang rame diperbincangkan dan bahkan menjadi berita utama di beberapa televisi nasional. Tenang pemuda nusantara, tulisan ini tidak akan membahas tentang first travel itu kok karena sudah pasti banyak yang membahas nya bahkan dari berbagai sisi. Dan dari sekian banyak pembahasan hampir semua menyimpulkan kalau kegiatan yang dilakukan oleh pemilik travel ini adalah kegiatan dengan skema ponzi (skema ponzi bisa Anda lihat penjelasan singkatnya disini). Inti dari skema ponzi ini adalah membayar kewajiban kepada investot sebelumnya dengan uang dari investor berikutnya dengan mengiming-iming keuntungan yang diluar kewajaran. Bahkan first travel ini kabarnya menawarkan ibadah umroh dengan hanya membayar 15jt rupiah saja.

Yang menarik untuk kita jadikan pembelajaran adalah bagaimana gaya hidup si pemilik travel ini. Apa yang kita bisa pelajari darinya. Tiba-tiba saja uang yang berada di kantongnya menjadi banyak, walaupun itu bukan uang dia semuanya. Sebagian besar adalah uang dari para umat yang tergiur dengan hal yang fantastis ini yaitu 15jt rupiah bisa berangkat umroh. Dengan tidak dibekali pendidikan keuangan yang memadai kita seringkali tergiur untuk membeli barang-barang yang tidak kita benar-benar butuhkan. Mulailah kita dengan membeli barang-barang yang kita inginkan, bisa berlibur keluar negeri, membeli produk fashion bermerek dan hal lain yang bisa menaikkan “gengsi”. Lalu kemudian kehidupan mengingatkan kalau apa yang kita lakukan itu tidak benar melalui banyaknya orang yang menagih hutang karena biasanya keinginan-keinginan itu kita penuhi dengan berhutang kanan kiri-atas bawah dan biasanya juga dengan menganggap uang yang kita pegang saat itu adalah laba atau keuntungan dari bisnis kita padahal uang yang kita pegang sebenarnya adalah baru merupakan hasil dari penjualan saja belum di potong biaya-biaya.

itu tadi dari Indonesia, contoh lain tentang apa yang terlihat bukanlah kebenaran adalah kehidupan petinju legendaris mike tyson. Beliau pernah tercatat sebagai atlit dengan penghasilan terbesar bahkan bisa dibilang dia (mike tyson) dibayar hanya untuk memukul lawan-lawannya. Betapa mudahnya ia menghasilkan uang pada masa-masa itu. namun lihatlah kehidupannya dua atau tiga tahun lalu, beliau sempat terlilit hutang dan membuatnya dinyatakan bangkrut. APa yang terjadi pada mike tyson? setali tiga uang dengan kehidupan pemilik first travel gaya hidup mike tyson sangatlah glamour pada waktu itu. seperti apa gaya hidupnya tidak akan saya bahas disini, namun bila ingin tahu lebih detail Anda bisa mencari-nya di situs-situs terpercaya lain seperti wikipedia.

MEdia sosial, yang sebenarnya diciptakan untuk kita supaya tetap terhubung belakangan menjadi ajang pamer kekayaan atau barang-barang kepunyaan. Bila kita mau menjernihkan pikiran sejenak sebelum mengambil kesimpulan bahwa sahabat-sahabat yang pamer barang-barang mewah di media sosial miliknya adalah memang benar-benar kaya ada baiknya kita melihat sejenak ke kehidupan dua contoh diatas. Bahkan beberapa pengalaman saya sendiri, ada sejumlah kolega yang sedang memiliki hutang yang sudah jatuh tempo kepada saya dengan keadaan tidak membayarnya malah berani memposting di media sosialnya kalau mereka sedang rekreasi, makan di tempat yang high class atau sedang menikmati relaksasi di sebuah hotel spa

kemana hati nurani orang-orang dengan tipe ini ya? bisa dikatakan mereka berbahagia di atas “penderitaan” orang lain. Dulu bila melihat kolega yang memposting hal-hal mewah di medsosnya saya kadang merasa terlecut untuk bekerja lebih keras, kadang merasa kalah, dan tidak jarang mencari informasi kegiatan apa yang sedang dilakukan kolega tersebut dan bila melihat kolega yang memposting tentang kemalangan yang menimpanya saya kerap merasa bersyukur. Ada sahabat yang kerap memposting saat dirinya sedang bekerja dengan kendaraan yang biasa-biasa saja dan disuatu kesempatan saya mengetahui kalau asetnya sudah lebih dari apa yang saya miliki, seketika itu juga saya seperti diingatkan kembali kalau apa yang terlihat itu bukan berarti kebenaran

Belakangan, setelah sadar akan hal ini saya mendidik diri agar menjaga jarak dengan postingan yang memamerkan harta atau kemalangan di medsos saya karena menyadari kalau yang terlihat itu bukan berarti kebenaran. Bagaimana dengan Anda pemuda nusantara?

2 thoughts on “Apa yang terlihat bukan berarti kebenaran

  1. Ollie Wollenburg

    Somebody essentially help to make seriously articles I would state. This is the very first time I frequented your website page and thus far? I amazed with the research you made to make this particular publish amazing. Excellent job!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *