Jangan Paksa Gaya Hidup Anda

By | August 12, 2017

Pagi Nusantaraku, bangun pagi selalu membuat saya bersemangat.. entah kenapa. Mungkin saja karena udara yang segar di pagi hari ya sidang pembaca yang terhormat.

kali ini saya mengangkat tema gaya hidup, menurut saya menarik sebab akhir-akhir ini saya melihat banyak sekali sahabat yang hidupnya merosot di bidang ekonomi karena gaya hidupnya yang tidak sesuai dengan “kantong” nya. Apalagi di zaman ini hiburan sangat mudah kita dapat, mulai dari tempat makan yang konsepnya di buat seperti tempat nongkrong yang letaknya sangat dekat dari tempat tinggal kita, mall yang dekat juga dengan pemukiman atau “night club” yang menawarkan banyak sekali program diskon untuk memancing agar kita mau datang ke tempat itu. Demikian banyaknya hiburan yang ada disekitar kita ibaratnya lintah yang menyerang kantong kita bila kita tidak bijak menyikapinya.

Jadi untuk bisa melakukan pengembangan diri yang penting harus kita lakukan mengontrol emosi kita, sebab semua cara-cara pemasaran selalu mencoba “menyerang” emosi calon konsumennya karena begitu emosi nya sudah dikuasai maka biasanya akal sehatnya akan kalah dan akan rela membeli produk yang bahkan tidak konsumennya butuhkan sekalipun. Pernahkah Anda membeli sesuatu anggap aja peralatan rumah tangga yang semenjak Anda beli tidak pernah sekalipun anda gunakan? nah, itu contohnya.

Balik lagi ke gaya hidup, kita karap menemukan kenyataan teman se-profesi, se-kantor, se-level atau teman yang skala bisnisnya sama persis dengan kita namun gaya hidupnya diatas kita. Contohnya begini, saat saya masih bekerja di salah satu perusahaan otomotif terbesar di Indonesia ini ada sahabat saya se-level yang gaya hidupnya diatas saya. Saya bekerja dengan sepeda motor skuter matic, sahabat saya bekerja dengan sepeda motor sport lalu yang lain saya biasanya makan di warung emperan, sahabat saya makan-nya di restoran paling minim nasi padang. Belum lagi bila rekreasi saya biasanya memilih ke pantai atau alun-alun kota untuk menghemat pengeluaran, sahabat saya rekreasinya menginap di hotel, villa atau ke luar daerah.

Untuk mempertahankan gengsi pernah saya mencoba mengikuti gaya hidupnya namun di bulan ke lima atau enam mulai terasa uang di rekening semakin lama semakin berkurang, bukannya malah semakin bertambah. Nah, karena hal itu baru kemudian saya mulai menghitung dengan penghasilan yang saya peroleh ketika itu dan saya bandingkan dengan pengeluaran mengikuti gaya hidup sahabat saya itu ternyta saya “lebih besar pasak daripada tiang” atau lebih besar pengeluaran daripada pemasukan. wahhhh lama-lama bisa mati saya kalau begini terus.

Menyadari hal ini saya kemudian mencari tahu kenapa sahabat saya bisa bergaya hidup seperti itu. Dan ternyata sahabat saya ini memiliki warisan beberapa rumah yang disewakan, ruko, dan tanah kosong yang juga disewakan, belum lagi hasil dari bisnis keluarga yang dimilikinya. waahhh pantas saja ya sidang pembaca, gaya hidupnya bisa diatas rata-rata teman kerja nya. Dengan aset seperti itu, tanpa bekerja pun sahabat saya itu sebenarnya masih bisa hidup. lalu kenapa dia bekerja? beberapa sahabat saya yang lain dengan kondisi yang persis sama mengatakan kalau ia bekerja hanya untuk mencari status di masyarakat. Buat apa mencari status kalau sudah mapan kata saya.

Belajar dari kehidupan sahabat yang gaya hidupnya di atas rata-rata itu tapi masih tetap terus bisa melakukannya, saya tidak terpancing lagi untuk ikut-ikutan gaya hidup mereka, WALAUPUN KERJA NYA SAMA, LEVEL NYA SAMA, PROFESI NYA SAMA DAN BISNIS NYA SAMA. karena saya menyadari ada sumber penghasilan lain yang mereka miliki.

Namun sayangnya dan parahnya, masih ada sahabat saya yang lain, yang sama seperti saya keadaanya dan bahkan bahkan lebih parah, eh eh gaya hidupnya sama dengan sahabat saya yang “diatas rata-rata” itu. BAhkan saya baru tahu belakangan sampai hutang kanan kiri dan limit kartu kreditnya full, namun gaya hidupnya masih bisa terbilang mewah. Mereka tidak sadar ekonominya dalam bahaya dan bisa-bisa keluarga nya yang akan jadi korban.

Kenapa saya katakan keluarga bisa jadi korban? sebab dari pengalaman dan beberapa bacaan salah satu sumber perceraian adalah karena faktor ekonomi, jadi Anda mau menghancurkan keluarga anda atau tidak? pilihan ada di anda.

sumber gambar : https://www.google.com/search?client=firefox-b&biw=1366&bih=659&tbm=isch&sa=1&q=gaya+hidup+traveling&oq=gaya+hidup+traveling&gs_l=psy-ab.3…76573.83133.0.83447.16.13.0.0.0.0.742.3009.2-3j1j0j2j1.7.0….0…1.1.64.psy-ab..9.3.1661…0j0i30k1j0i8i30k1.FRuNgDcpqQ4#imgrc=Vez9z4kXzavtnM:

2 thoughts on “Jangan Paksa Gaya Hidup Anda

  1. xoracle

    Wow! Thank you! I continuously wanted to write on my website something like that. Can I include a part of your post to my site?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *