Membantu atau Menjerumuskan ? saat Memberi Peminta-minta

By | December 2, 2018

Membantu atau Menjerumuskan ? saat Memberi Peminta-minta
Hai sobat nusantara, semoga semua dalam keadaan sehat ya..

Saat ini di daerah sekitar tempat tinggal saya (Bali) sedang banyak bermunculan “pengemis” dadakan. Orang-orangnya itu-itu aja. Dari penampilan biasa-biasa saja sampai penampilan yang tidak seperti pengemis. DI perempatan jalan juga sering bermunculan para “musisi” jalanan yang bernyanyi tidak sampai beberapa detik kemudian meminta bayaran, seringkali dan selalu kelakuan para musisi dadakan ini malah seperti pengemis misalnya belum selesai satu lagu namun bila sudah berada lebih dari 5 menit di satu orang maka akan ia tinggalkan orang itu entah dapat uang ataupun tidak (entah jualannya laku atau tidak)

Malah penampilan para “pengemis” ini sudah seperti penampilan orang biasa, Di usaha yang saya kelola sering kami kedatangan kunjungan dari pengemis yang sehari bisa berjumlah 2 sampai 3 orang, mulai dari berbekal tas plastik kresek bening yang seolah-olah memperlihatkan nasi bungkus yang berisi minuman larutan penyegar di dalamnya sampai ada yang ketahuan membawa HP Android di saku celana nya. Begitu saya coba singgung tentang hal itu (makanan dan hp android) selalu saja.. iya selalu saja mereka buru-buru pergi walaupun target nya belum tercapai yaitu meminta uang.

Di lain kesempatan saya melihat si pengamen dadakan ini sedang bersiap-siap untuk melakukan aksinya di perempatan jalan saat lampu traffic berwarna merah yang menandakan semua kendaraan yang di jalur itu harus berhenti. Pengamen ini memulai hari nya dengan berbekal satu minuman energi yang berlogo banteng ditemani dengan sebungkus rokok yang harga nya lumayan seperti misal rokok yang bergambar koboi itu.

Saking sering nya muncul dan orang-nya itu-itu aja saya jadi ragu apakah ini pengemis beneran yang lagi kekurangan uang untuk hidup keesokan hari ataukah mereka ini sekumpulan orang yang pekerjaannya memang meminta-minta. Bahkan ada seorang yang saya dapati mengendarai sepeda motor kemudian parkir tidak jauh dari tempat nya mengemis dan orang terakhir ini pernah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri ketika hendak mengurus tabungan di salah satu Bank rakyat terbesar di negeri ini.. saat itu doi sedang saya lihat masuk ke dalam ATM, saya tidak tahu apa yang dilakukannya di dalam Ruang ATM tersebut tapi yang jelas transaksinya sudah melalui Bank Umum.. sungguh sesuatu yang patut di perhatikan.

baca juga : Anda tergolong investor atau penjudi

Saya melihat mereka tidak ada bedanya dengan sales person, sama-sama menjual produk. Cuma yang mereka jual adalah rasa iba setiap orang dengan tools muka memelas dan murung.

Jadi konsepnya begini, mereka jual rasa iba dan kita membeli rasa iba itu dengan duit minimal 1.000 rupiah. Kita dengan mudah memberikan uang kita ketika melihat wajah melas itu. Dulu Sayapun begitu sampai akhirnya saya mengetahui beberapa kenyataan yang saya paparkan mengenai penampilan para pengemis ini dalam tulisan ini.

saking penasaran akhirnya saya mencoba menghitung berapa potensi pendapatan para pengemis ini.

Jika dalam menjual rasa iba ini mereka hanya memerlukan waktu 5 sampai 7 detik dengan potensi pendapatan 1.000 sampai 2.000 per 5 detik nya. Baiklah mari kita hitung sama-sama ya.

kita ambil saja contoh waktu yang diperlukan dan bersedia dialokasikan untuk satu “closing” adalah 5 detik sebab lebih dari 5 detik maka anda akan dianggap tidak akan memberi dan mereka akan segera beralih ke orang lain.

Bila 5 detik mendapat Rp. 2.000 maka per menit nya mereka mendapat Rp. 24.000 dan akan menjadi Rp. 1.440.000 selama 60 menit.. woww.. fantastis bukan?. dilihat dari sekian ribu rupiah yang kita keluarkan tentulah harga untuk sebuah rasa iba itu tergolong murah, cuma Rp. 2.000 rupiah. Tapi ingat, seperti contoh ilustrasi diatas Rp. 2.000 itu hanya maksimal 5 detik. Anda akan ditinggal oleh pengamen pengemis tipe ini bila anda sudah memberi uang di 3 detik pertama. Wow kan?

Coba kita lihat dari sisi yang memberi, bila setiap sekian detik anda mengeluarkan sekian rupiah maka berapa juta rupiah per hari yang anda keluarkan.. betapa mahalnya pekerjaan mereka.. tidak perlu ijazah, kemampuan berbicara, kemampuan bernegosiasi maupun kemampuan menggali kebutuhan konsumen seperti yang para penjual lain lakukan.

lalu apa beda nya dengan sales person? bedanya adalah yang satu menjual dengan cara-cara yang mengetahui pengetahuan produk dan menggali kebutuhan konsumen sementara yang satu menjual rasa iba dengan tools muka memelas.

Pertanyaan saya kembalikan ke anda apakah kita membantu para pengemis itu atau malah menjerumuskan mereka dengan cara memberi mereka sedekah?

Jaya Nusantara!

link Youtube klik disini

3 thoughts on “Membantu atau Menjerumuskan ? saat Memberi Peminta-minta

  1. oprol evorter

    Today, I went to the beachfront with my children. I found a sea shell and gave it to my 4 year old daughter and said “You can hear the ocean if you put this to your ear.” She placed the shell to her ear and screamed. There was a hermit crab inside and it pinched her ear. She never wants to go back! LoL I know this is totally off topic but I had to tell someone!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *