The Power of Konteks

By | November 17, 2016

“saya kurang motivasi”, “saya kurang bersemangat”, “saya terlalu malas” ..begitulah kira-kira kata-kata yang kerap diucapkan oleh orang-orang disekitar kita yang sedang berada jauh dari tujuan hidupnya.

Terdengar sangat manusiawi bukan? Iya kedengarannya sangat manusiawi, namun tahukah Anda bahwa kata-kata tadi akan membawa Anda ke dalam jurang kemunduran yang parah? Jurang itu adalah menganggap ketidakberhasilan yang terjadi dalam hidup Anda adalah akibat kurangnya motivasi yang Anda miliki.

Di dunia korporasi juga hampir sama, perusahaan sampai mengirimkan karyawan-karyawannya untuk mengikuti program-program atau seminar-seminar motivasi dan bahkan ada mengundang pembicara secara khusus untuk memberikan motivasi kepada karyawannya. Tindakan ini memang tidak salah, namun kurang tepat bila tujuannya untuk merubah semangat atau motivasi kerja karyawan. Biasanya para ahli motivasi akan memberikan gagasan tentang kerja itu adalah ibadah dan bukan tindakan fisik dengan tujuan mencari uang semata dan biasanya hal ini bisa meluruhkan hati karyawan yang bandel..namun saat itu saja atau palinng lama 1 mingguan. Berdasarkan pengalaman Saya, hal-hal seperti ini hanya bertahan sebentar saja dan beberapa minggu kemudian “jreeenngg”… keadaan karyawan kembali seperti semula.

Keadaan seperti ini sudah Saya alami selaku pemimpin di perusahaan Saya. Betapa motivasi dari pembicara itu hanya berefek sedikit dan tidak bertahan lama di benak karyawan, kalau tujuannya untuk menambah wawasan karyawan bolehlah.
Lalu bagaimana sebaiknya cara Kita untuk membuat diri Kita tetap termotivasi? Bila ternyata kurangnya kemauan untuk berubah alias motivasi ternyata bukan penyebab Kita mau berubah drastis. Penelitian-penelitian tentang human behavior yang sangat erat kaitannya dengan motivasi mengemukakan bahwa ternyata perilaku-perilaku itu sangat erat kaitannya dengan lingkungan disekitar Kita yang kerap disebut “Konteks”.

Konteks itu bisa berupa “reward and punishment” yang jelas, fasilitas olahraga di lingkungan kerja, atau bisa juga berupa dengan tidak ada-nya asbak (tempat puntung rokok) di sekitar rumah Kita. Intinya konteks itu adalah sesuatu yang berada di lingkungan sekitar Kita yang amat berperan dalam menentukan perilaku Kita. Misalnya reward and punishment yang tegas akan membuat motivasi karyawan meningkat beberapa kali lipat, fasilitas olahraga yang berada di lingkungan kerja membuat karyawan jadi rajin atau mencoba berolahraga, dan dengan ketiadaan asbak di sekitar rumah membuat Kita mulai malas merokok dirumah.

Demikianlah beberapa contoh dari konteks yang keberadaanya berdampak sangat signifikan untuk merubah diri Kita. Dan tanpa konteks, orang akan malas untuk berubah sebab tidak ada pemacu yang jelas. Bisa dikatakan bahwa ketika Anda enggan untuk berubah bukan berarti Anda kurang termotivasi atau kurang punya kemauan untuk berubah.
Anda bisa saja sudah sangat termotivasi, namun begitu menginjak hari kesekian kali motivasi semakin berkurang karena tidak adanya konteks yang tepat.

Jadi daripada menghabiskan sumber daya yang banyak untuk motivasi dari luar diri Kita, ada baiknya Kita mulai merubah Konteks sedikit demi sedikit atau kalau dana nya cukup Konteks nya langsung Kita rubah total seperti yang Kita inginkan.
-PYH-
olga-di-tempat-kerja
*gambar ilustrasi olahraga di lingkungan kerja

3 thoughts on “The Power of Konteks

  1. Margarett Olaughlin

    Woah! I’m really loving the template/theme of this site. It’s simple, yet effective. A lot of times it’s hard to get that “perfect balance” between superb usability and visual appearance. I must say you have done a very good job with this. Additionally, the blog loads very quick for me on Internet explorer. Superb Blog!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *